Sabtu, 09 Januari 2010

Pergaulan Bagi Kaum Wanita

Setiap manusia memerlukan pergaulan. Dan Islam mengatur pergaulan kaum muslimah dengan pergaulan yang suci, aman dan mulia, karena syetan senantiasa berusaha menghancurkan keimanan setiap manusia dengan segala tipuannya. Yang paling banyak menyelewengkan wanita dari agama dalam hal pergaulan adalah mengenai kebebasan wanita, emansipasi, sebagai suapan-suapan globalisasi, yang meniru kebudayaan Yahudi dan Nasrani, sehingga kaum muslimah seolah-olah dipaksa untuk keluar dari budaya Islam yang aman dan bijaksana.
Rasulullah saw. telah banyak mengingatkan kaum lelaki dengan bersabda, "Berhati-hatilah kamu berkhalwat/ berinteraksi dengan wanita. Demi diriku yang berada di tangan-Nya, tidak akan pernah seorang lelaki yang berduaan dengan seorang wanita, melainkan syetan akan masuk di antara mereka. Seorang lelaki yang merapat dengan babi yang penuh dengan lumpur, masih lebih baik daripada ia merapat dengan paha wanita yang tidak halal baginya." (Thabrani).

Syaikh Muhammad bin Abdullah mengulas masalah tipuan syetan ini, bahwa pergaulan bebas di antara lawan jenis -seperti yang sudah sangat merajalela dewasa ini- hanya akan mendorong wanita untuk senang bersolek, berpenampilan menantang, menarik pandangan laki-laki dan membangkitkan pesona mereka. Sebab hasrat seksual yang menjadi ciri fitrah laki-laki dan wanita, akan semakin bertambah kuat karena adanya pergaulan antara lawan jenis dan jika pembatasannya mudah ditembus. Dalam masyarakat yang membuka pergaulan seperti itu akan muncul pembawaan baru pada diri laki-laki dan wanita, yaitu saling menampakkan keindahan dan pesonanya untuk menarik minat lawan jenisnya. Lama kelamaan, tindakan ini bukanlah sesuatu yang perlu diingkari dan dicela, karena adanya perubahan teori moralitas. Bahkan kemudian semua itu dianggap sesuatu yang perlu disenangi, kemudian berkembang semakin jauh hingga masing-masing tidak memiliki lagi satu pembatasan pun. Dan dari sinilah mulainya bencana kemerosotan manusia.
Islam yang bijaksana tahu persis bahaya dan akibat pergaulan yang tidak tertata dalam kehidupan individu dan umat, tatkala dorongan birahi sudah memuncak. Karena syariat Islam sudah membuat berbagai cara penanggulangan dan pencegahan, yang bisa menghalangi terlepasnya hasrat birahi dari pagarnya. Islam demikian menaruh perhatian terhadap penguatan ketakutan kepada Allah pada diri manusia, dengan memperkuat fitrah rasa malu, agar perasaan ini bisa menjadi pengontrol secara internal. Islam juga mensyari'atkan hijab/ pelindung tubuh pada wanita agar dia menutupi keindahaan dirinya dari lelaki, meminta izin tatkala memasuki suatu rumah, menyuruhnya agar menundukkan pandangan mata, baik dari lelaki maupun wanita, melarang bergaul bebas antara laki-laki dan wanita, memperingatkan wanita yang bepergian tanpa disertai mahram, dan memberi hukuman bagi orang yang melanggar larangan ini.
Muhammad Quthub mengatakan bahwa nafsu birahi seks itu sendiri bukanlah sesuatu yang kotor dan haram, tetapi ia harus diletakkan dalam suatu lingkup yang benar dan bersih. Sedangkan kebebasan yang dihembuskan para wanita Barat dan diserukan oleh para propagandis kebebasan di negara Timur yang beragama Islam, justru akan merusak wanita dan lelaki serta generasi selanjutnya. Padahal dalam 'Huququl Mar'ah' ditulis bahwa kebebasan yang sebenarnya adalah melepaskah diri dari bisikan hawa nafsu dan syahwat, juga dari tradisi dan kebiasaan-kebiasaan yang menyimpang dan sesat. Dari sini jelaslah bahwa majelis yang di situ ada kaum laki-laki dan wanita bercampur, sama sekali tidak sesuai dengan tabi'at Islam dan ajaran-ajarannya. Sebab pesona birahi yang ada dalam naluri laki-laki dan wanita mempunyai suatu kekuatan yang tidak bisa dipungkiri, yang akan menjadi bertambah dan kuat jika keduanya saling berkumpul.
Ditulis di dalam Nailul Author, dalam bab 'Larangan Berkhalwat dengan Wanita bukan Mahram'. Berkhalwat dengan wanita lain sudah disepakati oleh para ulama tentang keharamannya, sebagaimana telah disebutkan oleh Hafizh Ibnu Hajar rah.a. di dalam Fathul Bari. Alasan pengharaman tersebut, karena apa yang disebut di dalam hadits tentang keberadaan syetan sebagai orang ketiga dari keduanya, bisa menyeret keduanya ke dalam kedurhakaan. Namun jika khalwat disertai oleh mahram, itu dibolehkan, karena kemungkinan terjadinya kedurhakaan bisa dicegah oleh kehadiran mahram tersebut. Sebab tabi'at kekerabatan itu cenderung mendorong laki-laki lebih berani memasuki tempat wanita, karena beralasan adanya hubungan kerabat, sehingga mereka berani mengetuk pintu, baik pada siang maupun malam hari, baik ada kepentingan ataupun tidak ada. Tetapi justru tidak jarang akhirnya hal ini menimbulkan akibat yang sangat fatal dan justru bisa merenggangkan hubungan kerabat atau bahkan perceraian. Lukman Al Hakim berwasiat kepada anak laki-lakinya, 'Takutiah kamu terhadap wanita yang buruk karena ia membuatmu beruban sebelum kamu beruban. Dan takutlah terhadap wanita-wanita jahat karena mereka tidak mengajak kepada kebaikan dan berhati-hatilah kamu dalam memilih mereka."
Read More or Baca Lebih Detil..

Ilmu yang Wajib Dituntut Oleh Kaum Wanita

Firman Allah, "Maka ketahuilah bahwasanya tidak ada Ilah selain Dia." (Muhammad: 19).
Hendaknya jangan disalahpahami bahwa yang diwajibkan untuk dipelajari bagi kaum muslimin dan muslimat adalah agama. Al-Ghazali rah.a. menuliskan bahwa jika seseorang yang berakal telah baligh, maka yang pertama kali wajib baginya adalah mempelajari dua kalimat syahadat dan memahaminya. Wajib baginya untuk mengenal Allah, siapa Allah, bagaimana sifat dan kebesaran Allah swt. Kemudian apa-apa yang ditujukan untuk menta'ati Allah. Seperti jika datang waktu shalat maka wajib baginya mempelajari tentang shalat, jika akan tiba bulan Ramadhan, maka wajib baginya mempelajari tentang shaum. Jika akan berangkat haji, maka wajib baginya mempelajari haji. Jika ia memiliki harta, maka wajib baginya mempelajari zakat. Jika yang fardhu-fardhu ini telah sempurna ia pelajari, maka diwajibkan baginya untuk mempelajari sunah-sunah Rasulullah saw.. Jikalau itu pun sudah dipelajarinya, barulah ia boleh mempelajari hal-hal yang lainnya.
Urutan ilmu pengetahuan yang harus diketahui oleh seorang wanita shalihah jika ditertibkan adalah sebagai berikut:

- Ilmu Tauhid dan masalah agama.
- Ilmu Sunnah dan adab.
- Ilmu Mu'amalah dan Mu'asyarah sesama manusia, terutama bagaimana berbakti kepada suami, orang tua, tarbiyah (mendidik) anak dan lain sebagainya.
- Ilmu-ilmu lainnya yang bermanfaat untuk dunia akhirat.
DR. Abdullah Nashih Ulwan juga menyatakan bahwa wanita wajib mempelajari keterampilan yang sesuai dengan tugas dan spesialisasinya sebagai ibu dan istri. Tetapi sayangnya, bahwa yang terjadi pada saatsekarang ini adalah kaum wanita, (bahkan juga kaum lelaki) menyepelekan ilmu-ilmu agama dan menganggap bahwa mempelajari ilmu agama adalah kesia-siaan belaka. Sedang ilmu pengetahuan dan tekhnologi, dianggap suatu kehebatan yang luar biasa. Ini adalah suatu tipuan yang melanda umat ini. Maka diharapkan dari wanita shalihah agar dapat menghidupkan kembali semangat ilmu agama.
Read More or Baca Lebih Detil..

Etika Wanita dalam Menuntut Ilmu

Taqwa adalah Modal Utama
Allah berfirman, "Bertaqwalah kamu kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu." (Al-Baqarah: 282).
Dengan menjaga diri dalam garis-garis keta'atan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka secara otomatis akan menambah ilmu dan pengetahuan dalam masalah agama. Ilmu yang diiringi ketaqwaan akan menambah kedekatan dengan Allah Ta'ala.

Utamakan Belajar dari Mahramnya
Di sinilah manfa'at dan kepentingan dari menghidupkan majelis ta'lim di dalam rumah. Dengan ta'lim berarti telah menjadikan rumah sebagai basis madrasah bagi keluarga. Salah satu manfa'at daripada ta'lim bagi kaum lelaki di masjid adalah bilamana mereka (para suami) pulang ke rumah masing-masing dapat mengajari istri-istri mereka tentang apa-apa yang telah mereka dapatkan dari ta'lim di masjid-masjid mereka. Dengan demikian, dorongan istri kepada suami untuk meluangkan waktu mempelajari dien adalah sangat penting, sebagaimana dorongan istri kepada suami dalam masalah mencari nafkah.
Jika terpaksa sekali harus keluar mencari ilmu, maka dijaga dalam batas ketaqwaan dan dengan ridha suami. Ibnu Abdullah rah.a. berkata, 'Tatkala istri belajar dari fardhu-fardhu yang wajib atas dirinya, maka ia tidak berhak untuk keluar ke majelis laki-laki, dan tidak berhak untuk belajar keutamaan kecuali dengan ridha suami."

Hijab antara yang bukan mahram
Ini adalah suatu hal yang sangat penting dalam hal pendidikan wanita. Dan demikianlah yang dicontohkan oleh para shalihin dahulu dalam mencari ilmu. Diriwayatkan bahwa jika sesudah salam dari shalatnya, maka Nabi saw. berdiam beberapa saat. Dan jama'ah mengetahui sikap beliau tersebut, yaitu agar para wanita keluar lebih dahulu sebelum kaum lelaki. Diriwayatkan bahwa Masjid Nabawi mempunyai pintu khusus bagi para wanita, dan Umar ra. melarang kaum laki-laki masuk dari pintu ini.

Kewajiban menuntut ilmu bagi wanita adalah sama dengan lelaki, tetapi cara dan sistemnya jelas berbeda. Bukan seperti yang dicontohkan oleh para penghancur Islam. Dr. Anwar Jundi mengatakan bahwa sistem belajar yang telah diatur sedemikian rupa oleh Islam dijadikan sasaran propaganda busuk oleh kalangan musuh Barat yang tidak senang terhadap Islam. Mereka meneriakkan dengan lantang, bahwa sistem belajar semacam itu hanya memojokkan kaum wanita, mengurangi kebebasan. Oleh karena itu, mereka meniupkan propaganda busuknya ke telinga kaum muslimah agar mendobrak tata aturan Islam yang telah sempurna tersebut. Salah satu dari propaganda mereka adalah dengan mencampurkan lelaki dan wanita dalam satu ruang dalam pendidikan.
Imam Al-Qabisi rah.a. di dalam makalahnya tentang pendidikan, berpendapat bahwa walaupun Islam memberikan kebebasan kepada kaum wanita untuk menuntut ilmu seperti kaum lelaki, tetapi dalam praktek pengajarannya mesti dijauhkan dari kaum lelaki, dan tidak mencampurkan kaum lelaki dan wanita dalam pendidikan. Ibnu Sahnun rah.a. ketika ditanya tentang pengajaran yang mencampurkan lelaki dan wanita, beliau menjawab, "Aku memakruhkannya."
DR. Abdullah Nashih Ulwan menuliskan bahwa mereka yang menghalalkan bercampur-baurnya lelaki dan wanita serta membebaskannya dengan alasan adat-istiadat sosial, dan sebagainya. Pada hakekatnya mereka telah mendustakan fitrah manusia dan berpura-pura tidak tahu terhadap kenyataan pahit yang melanda umat saat ini. Padahal Allah telah menciptakan lelaki dan wanita serta melengkapi keduanya dengan kecenderungan seksual antara masing-masing jenis. Itulah "Fitrah Allah yang telah mendaptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah." (Ar-Ruum: 30).
Read More or Baca Lebih Detil..

Pentingnya Menuntut Ilmu Bagi Kaum Wanita

Dalam hal ini, Islam tidak membedakan antara laki-laki dan wanita.
Wanita pun diperintahkan agar membekali diri dengan ilmu yang bermanfa'at, yang dapat mendorongnya sehingga mengenal Allah dan dien/ agama-Nya. Nabi saw. bersabda,
"Menuntut ilmu adalah fardhu atas setiap muslim." (Hadits Riwayat Thabrani).
Hal ini juga terungkap dalam sabda-sabda beliau yang lainnya. Beliau saw. bersabda, "Seorang lelaki yang mempunyai hamba sahaya wanita lalu ia mengajarnya, dan membaguskan pengajarannya dan adabnya serta mendidiknya, kemudian mengawinkannya, maka baginya dua pahala." (Abu Dawud).
Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa memiliki tiga saudara perempuan, atau dua anak perempuan, atau dua saudara perempuan, lalu mereka dididik adabnya, berbuat baik kepada mereka, dan (sampai) mereka dinikahkan, maka baginya surga." (Abu Dawud).
Ali bin Abi Thalib ra. berkata, "Sebaik-baik wanita adalah wanita-wanita Anshar. Mereka tidak malu mempelajari dan memperdalam pemahaman Agama." (Abdurrazaq).
Nabi saw. senantiasa mengkhususkan pada hari-hari tertentu untuk mengajarkan kepada kaum wanita hukum-hukum agama. Sehingga kaum wanita pun dapat belajar dan mengajar sesamanya. Karena ada suatu masa dimana Nabi saw. pun merasa malu untuk menjelaskan beberapa hukum agama yang khusus bagi wanita. Maka di situlah kaum wanita berperan untuk saling belajar dan mengajar. Sehingga tidak timbul fitnah dalam belajar mengajar. (Bukhari, Muslim).

Aisyah ra. berkata, "Ada seorang wanita bertanya kepada Nabi saw. tentang bagaimana cara mandi sesudah bersih dari haidh. Lalu Rasulullah saw. menyuruh wanita itu memperagakannya dan berkata, "Ambillah wewangian itu dan bersucilah dengannya." Wanita itu bertanya lagi, "Bagaimana caranya?" Nabi saw. menjawab, "Ya, pakai saja." Wanita itu nampaknya belum puas dengan jawaban beliau, maka ia bertanya lagi, "Bagaimana caranya, ya Rasulullah?" Dengan tersipu Beliau saw. menjawab, "Subhanallah, ya pakai saja!" lalu beliau memanggilku untuk menggantikan beliau dalam menjelaskan hal ini." (Bukhari, Muslim).
Ibnu Hazm rah.a. menjelaskan tentang persekutuan wanita dengan laki-laki dalam mencari ilmu, katanya, "Setiap muslim yang sudah baligh dan berakal, laki-laki dan wanita, orang merdeka dan hamba, dikenai kewajiban, tak seorang pun dari kaum muslimin yang menyanggahnya, bahwa ia harus mengetahui mana yang halal dan mana yang haram bagi dirinya, siapapun ia. Mereka semua diwajibkan adil dalam proses belajar. Seorang imam dapat memaksa para wanita sekalipun wanita terpandang agar belajar sendiri atau memberi peluang kepada mereka untuk belajar. Juga imam layak bertindak tegas dalam hal ini serta mengatur orang-orang untuk mengajari orang lain yang masih bodoh."
Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya seorang wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Sekali-kali ia tidak akan lurus bagimu di atas satu jalur. Jika engkau bersenang-senang dengan wanita, maka engkau akan mendapatkannya, sedangkan pada dirinya tetap ada bengkok." (Muslim).
Syaikh Abu Muhammad Jibril menyatakan bahwa dari penyelidikan para ahli ilmu jiwa dan menurut kenyataan, bahwa wanita meskipun ia telah dewasa, namun tingkah lakunya masih seperti anak-anak, tabi'at manja dan suka merajuk selalu ada padanya. Selanjutnya beliau berkata bahwa di samping sifat merajuk, mudah menangis dan putus asa, wanita mempunyai sifat iba hati yang sangat dalam, pendiriannya mudah berubah dan ketabahannya mudah tergoyahkan. Karena sifat-sifat itulah, maka kaum wanita wajib dididik, diajar dan diberi bimbingan yang cukup. Jika tidak memperoleh pendidikan yang memadai, bahaya akan datang mengancam segenap lingkungan masyarakat dan kerusakan pun akan terjadi di mana-mana akibat kebodohan mereka, sebab pada hakikatnya wanita itu adalah fitnah dan ujian terbesar, juga sumber kerusakan yang dahsyat jika tidak diiringi dengan iman dan ilmu yang hak.
Dalam hal ini, para suami pun bertanggung jawab untuk memberi pengajaran pengetahuan agama kepada istrinya. Syaikh Ibnu Abdullah rah.a. berkata, "Jikalau istri mengabaikan hukum dari hukum-hukum haidh dan istihadhah dan laki-laki tidak mengajarinya, maka laki-laki tersebut keluar bersama istrinya dan ia bersekutu dalam dosa."
Read More or Baca Lebih Detil..

Rabu, 18 November 2009

Ciri-ciri Wanita Shalihah

Rasulullah saw bersabda:

“ Jika wanita shalat lima waktunya, berpuasa di bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya,’ Masuklah ke dalam surga dari pintu surga mana saja yang kamu sukai.’” ( Hadits Riwayat Ibnu Hibban, Thabrani ).

Dalam surat Al Ahzab ayat 35 disebutkan beberapa sifat wanita shalihah, di antaranya yaitu; Taat, jujur, sabar, khusyu’, dermawan, suka berpuasa, memelihara kehormatannya dan banyak berdzikir kepada Allah swt.
Syaikh Abdul Halim mengatakan bahwa wanita-wanita shalihah adalah “ Qonitaat” ( orang yang taat ) dan “Hafizhaat” ( orang yang menjaga diri ) saat suami tidak ada.

Dalam pembahasan ini akan diterangkan mengenai beberapa dari sifat-sifat tersebut, dan yang lainnya akan diterangkan dalam bagian yang lain. Sifat-sifat/ cirri-ciri tersebut adalah:
1. Menjaga sholat 5 waktu
Shalat adalah salah satu kewajiban umum yang telah Allah perintahkan kepada Umat Islam baik lelaki maupun perempuan. Nabi saw bersabda,” Shalat adalah tiang agama. Barangsiapa mendirikannya, berarti ia telah mendirikan agama, dan barangsiapa meninggalkannya, berarti ia telah menghancurkan agama.” ( Hadit Riwayat Baihaqi )

Seorang wanita shalihah meyakini bahwa shalat adalah ibadah yang sangat istimewa, sehingga tidak mungkin ia melalaikan shalatnya. Ia bukan hanya beristiqomah dalam menjalankannya, tetapi juga menjaga segala hal yang berhubungan dengannya. Ibnu Abbas r.a. berkata tentang maksud Surat Maryam: 59, atau Surah Al Maa’uun:4-5, bahwa melalaikan sholat bukan hanya meninggalkan sholat begitu saja, tetapi termasuk juga melalaikan waktunya, atau mengakhirkan waktunya dari waktu yang tepat. Jika maksudnya memang demikian, maka melalaikan waktu shalat juga termasuk kategori melalaikan sholat. Maka orang yang melalaikan waktu sholat ( tidak menjaga/ suka mengakhirkan waktu sholat ) pun akan mendapatkan balasan berupa “ ghayya’ ataupun neraka Wail.

Allah telah memberi kemudahan bagi kaum wanita muslimah dalam menunaikan sholat, yang tidak disamakan seperti kaum lelaki. Bagi wanita, hanya ada dua aturan dalam melaksanakannya. Lebih ringan dan mudah, tetapi mempunyai ganjaran dan pahala yang sama besarnya dengan kaum lelaki. Ini adalah karena rasa kasih-Nya terhadap kaum wanita, demi terjaganya wanita dari segala fitnah. Kedua aturan itu adalah:

1> Lebih utama dilaksanakan di rumah. Sekali lagi, bahkan meskipun dilaksanakan di rumah dan hanya bersendirian, tetapi ia tetap akan mendapatkan pahala yang sama dengan kaum lelaki yang melaksanakan sholat berjamaah di masjid.
2> Dilaksanakan pada awal waktu.
Nabi saw bersabda,” Amalan yang paling utama adalah sholat tepat pada waktunya.” Hadits ini ditujukan kepada kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan.
Melalaikan waktu sholat dengan sengaja, berarti mengundang murka Allah atas dirinya. Nabi saw bersabda,” Tiga orang yang sholatnya tidak akan diterima oleh Allah swt yaitu: a. Orang yang tidak sholat kecuali setelah lewat waktunya ( dengan sengaja ), b. Imam yang tidak disukai oleh makmumnya, c. Orang yang memperbudak orang merdeka.” ( Hadits Ibnu Majah ).

Menjaga sholat pada waktunya menghasilkan keuntungan duniawi maupun ukhrawi. Dalam urusan duniawi, di antaranya; dijauhkan dari kesulitan rezeqi ketika di dunia. Empat keuntungan ukhrawi adalah: a. Dihindarkan dari siksa kubur, b. Diberikan buku catatan amalnya melalui tangan kanan, c. Melewati jembatan shirat secepat kilat, dan d. Masuk surga tanpa hisab.

Rasulullah saw bersabda,” Jika seorang hamba sholat pada awal waktunya, maka naiklah sholat itu ke langit dengan diliputi nur hingga sampai ke Arsy, lalu ( nur ) itu memohonkan ampunan bagi orang yang sholat seperti itu sampai hari Kiamat, dan ia berkata,” Semoga Allah memeliharamu sebagaimana kamu memeliharaku.” Dan jika seorang hamba mengerjakan sholat tidak tepat pada waktunya, maka naiklah sholat itu ke langit dengan diliputi kegelapan. Dan ketika sampai di langit, sholat itu terlipat bagaikan baju yang rusak, kemudian dilemparkan kembali ke muka orang yang mengerjakannya.” ( Hadits Adz Dzahabi ).

Orang-orang sholih pada jaman dahulu-seperti para shahabat r.hum. – sangat memperhatikan sholat pada awal waktu dengan sungguh-sungguh. Mereka akan sangat bersedih jika mereka tertinggal shalat pada awal waktu atau karena tertinggal shalat berjamaah.

Az Zuhri rah.a bercerita,” Pada suatu ketika, aku masuk ke tempat Anas bin Malik r.a. di Damsyik dan kujumpai ia sedang menangis. Aku bertanya,’ Mengapa engkau menangis?’ Beliau menjawab,’ Aku tidak mengetahui sesuatu yang telah kudapatkan, kecuali shalat ini. Tetapi ternyata kini orang-orang telah mengabaikannya.’
Al Kannany rah.a. menerangkan bahwa mengabaikan sholat yang dimaksud di sini adalah mengakhirkan waktunya, bukan meninggalkannya sama sekali. ( Bukhari )

2. Gemar Berpuasa

Allah swt berfirman,
“ Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian puasa sebagaimana yang telah diwajibkan ke atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.” ( Al Baqarah: 183 )

Rasulullah saw bersabda,” Segala kebaikan anak Adam dilipatgandakan pahalanya sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah swt berfirman,’ Kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku memberikan pahala kepadanya karena ia telah meninggalkan syahwat dan makan minumnya lantaran Aku.’” ( HR Muslim ). Dalam hadits lain, beliau bersabda,” Puasa itu Junnah ( perisai ). Karena itu jika kamu sedang berpuasa, janganlah mengucapkan kata-kata yang buruk, keji dan yang membangkitkan syahwat. Dan janganlah ia mendatangkan hiruk pikuk, hangar binger.”

Diriwayatkan bahwa puasa dan Al Qur’an akan memohon syafa’at bagi pelakunya kepada Allah, dengan berkata,” Ya Allah, aku telah menghalanginya dari makan dan memenuhi syahwat pada siang hari, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at baginya.” Maka syafaat keduanya diterima oleh Allah swt. ( Hadits Riwayat Ahmad ).

Wanita shalihah selalu menunaikan shaum Ramadhan dan puasa-puasa lainnya selama tidak dalam keadaan berhalangan. Puasa-puasa sunnah lainnya adalah; Puasa Arafah, Puasa ‘Asyura dan Tasu’a, Puasa 6 hari pada bulan Syawwal, Puasa 3 hari putih, Puasa Senin Kamis dan lain-lain.

Imam Al Ghazali rah.a. menuliskan ada 3 tingkatan manusia dalam mengerjakan puasa: a. Hanya memenuhi syari’at, meninggalkan makan minum dan syahwat. b. Selain menahan dari makan dan minum dan syahwat, juga menahan lidah, pandangan dan anggota badan lainnya. c. Selain melakukan hal-hal di atas, hatinya juga betul-betul bertawajuh/ fokus hanya kepada Allah dan memeliharanya dari selain Allah. ( Ihya Ulumuddin )
Dengan berpuasa akan mendidik kepada ketaqwaan, yaitu dengan belajar menahan hawa nafsu dan mentaati sepenuhnya hokum agama.

3. Ciri lainnya

Selanjutnya Imam Nawawi rah.a. dalam Kitab Syarah Uqudul Lujain, mengutip sabda Rasulullah saw tentang wanita penghuni surga. Beliau bersabda,” Empat wanita yang berada di surga, yaitu: (1) Wanita yang memelihara dirinya, taat kepada Allah dan suami, banyak anaknya, serta sabar, (2) Menerima apa yang ada walaupun sedikit bersama suaminya dan bersifat pemalu. (3) Jika suaminya pergi, maka ia menjaga dirinya dan harta suaminya. Jika suaminya berada di rumah maka ia menjaga lisannya dari menyakiti suami. (4) Wanita yang ditinggal mati suaminya, sedangkan ia mempunyai anak yang masih kecil-kecil lalu ia menahan dirinya, memelihara dan mendidik anak-anaknya, serta berbuat baik kepada mereka dan tidak menikah lagi karena takut menyia-nyiakan mereka.”

Adapun 4 wanita yang berada di neraka adalah: (1) Wanita yang jelek lisannya kepada suaminya. Jika suaminya pergi, ia tidak menjaga dirinya. Jika suaminya berada di rumah, ia menyakiti suaminya dengan ucapannya. (2) Wanita yang membebani suaminya dengan bermacam-macam tuntutan, yang suami tidak mampu melakukannya. (3) Wanita yang tidak menutupi dirinya dari laki-laki lain dan ia keluar dari rumahnya dengan berhias. (4) Wanita yang sama sekali tidak mempunyai keinginan kecuali makan, minum dan tidur. Ia tidak memiliki gairah untuk mengerjakan shalat, untuk mentaati Allah, mentaati Rasul dan suaminya. Maka jika ada wanita memiliki sifat-sifat seperti ini, ia adalah wanita yang terlaknat dan ahli neraka, kecuali jika ia bertaubat.

Demikianlah beberapa cirri-ciri utama wanita shalihah, sekaligus sebagai keistimewaan mereka dari Allah swt. Seandainya hal ini dipahami dengan benar, maka dengan sedikit bersusah payah dalam mentaati agama, seorang wanita shalihah dapat mendahului laki-laki shalih untuk memasuki surganya Allah swt.
Read More or Baca Lebih Detil..

Peranan Wanita Shalihah

Rasulullah saw bersabda,” Kejahatan satu orang wanita jahat adalah setara dengan kejahatan seribu orang laki-laki. Kebaikan satu orang wanita yang sholihah adalah seperti amalannya tujuh puluh ( 70 ) orang-orang shiddiqin.” ( HR Abu Syaikh ).

Alim ulama mengatakan bahwa ‘Shiddiqin’ adalah derajat para wali Allah. Hal ini menunjukkan ketinggian derajat seorang wanita shalihah. Kaum wanita memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap roda kehidupan dunia ini, bahkan terhadap kaum laki-laki sekalipun.

Syaikh Ibrahim Ali mengatakan bahwa seorang wanita jika sudah dominan dalam kehidupan pria, maka ia akan menjadi buah hati dan ruhnya, bahkan ia akan menjadi segenap badan dan perasaan pria. Semua tindakan kebaikan atau kejahatan yang dilakukan seorang pria, adalah karena dorongan dari wanita.

Pikiran dan amalan para wanita muslimah ikut serta berhembus dengan angin, mengalir dengan air, menyatu dengan tanah, tanpa memerlukan kendaraan untuk membawanya, tanpa memerlukan tenaga untuk mengangkutnya. Kebaikankah yang akan merebak, ataukah kejahatan, semua bergantung kepada amalan para wanita.

Selanjutnya beliau mengatakan, bahwa banyak ulama dan para tokoh jika tergoda oleh wanita, maka rusaklah perjalanan hidupnya. Hal itu bukan disebabkan karena kepandaian wanita lebih jauh dan lebih luas daripada laki-laki, tetapi karena kekuatan ghaib titipan Allah yang menjelma menjadi daya tarik dan pesona wanitalah yang mampu menggoncang pria.

Namun demikian, meskipun kaum wanita juga dikatakan sebagai fitnah, tetapi kata fitnah ini harus diartikan dengan maksud positif. Peringatan Allah agar berwaspada terhadap fitnah yang ditimbulkan kaum wanita, sama seperti peringatannya terhadap fitnah harta dan anak-anak, tidak berarti semuanya buruk dan jahat. Namun sebagai ungkapan bahwa sikap yang berlebihan dalam menggantungkan diri pada semua itu bisa berpotensi mencapai suatu batas yang dapat menimbulkan fitnah, dan lupa diri dari dzikrullah.

Disebabkan karena kruang bergaungnya usaha dakwah sesuai dengan sunnah Rasulullah saw, maka nilai dan keutamaan wanita telah menjadi kabur, bahkan tidak sedikit kaum wanita yang telah diselewengkan syetan untuk menjadi pembantu-pembantunya dalam menyebarkan kemungkaran. Wanita telah dijauhkan dari nilai-nilai kemuliaan menuju ke arah derajat yang sangat rendah dan hina. Dan sangat sedikit di antara kaum wanita yang menyadari hakekat keutamaan yang ada pada diri mereka. Nabi saw bersabda,” Permisalan wanita shalihah dari kalangan para wanita adalah seperti burung gagak hitam yang salah satu kakinya berwarna putih.” ( HR Thabrani ).

Ungkapan ini bermakna, betapa sedikitnya wanita yang tergolong menjadi wanita shalihah. Hal ini dimaksudkan agar menjadi renungan dan penghisaban bagi kaum wanita atas keselamatan dirinya, sehingga akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan kesempatan yang sedikit ini, tanpa ada rasa khawatir atau pesimis. Sebagaimana kisah Asiah istri Fir’aun. Di tengah-tengah kaum yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, ia tetap berpegang teguh kepada Allah SWT. Walaupun untuk menjaga keimanan tersebut, ia harus menerima kematian di tangan suaminya sendiri, yaitu Fir’aun La’natullah ‘alaih. Sehingga atas keteguhannya itu, Rasulullah saw bersabda bahwa wanita yang terbak dan paling sempurna adalah Asiah istri Fir’aun dan Maryam a.s. Bahkan Ibnu Qurthubi rah.a. dan Hafizh Ibnu Hajar rah.a. menganggap bahwa mereka berdua adalah Nabiyullah.
Read More or Baca Lebih Detil..

Keutamaan Wanita Shalihah

Rasulullah saw bersabda:
“ Dunia adalah kesenangan sementara. Dan sebaik-baik kesenangan adalah wanita ( istri ) yang shalihah.” ( HR Muslim ).

Wanita shalihah adalah pilihan Allah di dunia ini. Sifat-sifat mereka telah dipuji oleh Allah di dalam firman-Nya,

“ Sesungguhnya lelaki dan wanita yang muslim, lelaki dan wanita yang mukmin, lelaki dan wanita yang taat, lelaki dan wanita yang jujur, lelaki dan wanita yang sabar, lelaki dan wanita yang khusyu’, lelaki dan wanita yang bersedekah, lelaki dan wanita yang berpuasa, lelaki dan wanita yang memelihara kehormatannya, lelaki dan wanita yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” ( QS Al Ahzab: 35 ).

Rasulullah saw bersabda,” Wahai sekalian wanita, sesungguhnya yang paling baik di antara kalian akan memasuki surga sebelum orang yang terbaik di kalangan lelaki. Mereka akan mandi dan memakai minyak wangi dan menyambut suami-suaminya di atas keledai-keledai merah dan kuning. Bersama mereka anak-anak kecil. Mereka seperti batu permata yang berkilauan.” ( Abu Syaikh )..

Wanita shalihah adalah anugerah yang luar biasa dari Allah. Rasulullah saw bersabda,” Di antara kebahagiaan anak Adam, terdapat di dalam 3 hal, yaitu: Wanita yang shalihah, rumah yang baik dan kendaraan yang baik.” ( HR Ahmad ). Sabda beliau yang lainnya,
” Barangsiapa diberi rezeqi oleh Allah seorang wanita yang shalihah, maka Allah telah menolong separuh imannya. Karenanya bertaqwalah kepada Allah untuk separuh yang lainnya.” ( Hadits Riwayat Thabrani ).

Demikian mulianya seorang wanita shalihah, sehingga Abu Sulaiman Ad Darani rah.a. berpendapat,” Istri yang shalihah bukan termasuk dunia, karena istri itu menjadikanmu tempat ( beramal demi ) akhirat.” Dan Muhammad bin Ka’ab berkata mengenai firman Allah,” Wahai Rabb kami, berikanlah kami kebaikan di dunia.” ( QS Al Baqarah: 201 ), bahwa yang dimaksud itu adalah istri yang shalihah.

Imam Dailami rah.a. meriwayatkan bahwa wanita shalihah akan disebut-sebut oleh ahli langit sebagai ‘syahidah’. Dan mereka memang sangat dirindukan oleh penduduk bumi dan langit, bahkan ikan-ikan di lautan pun dengan senang hati mendoakan rahmat dan maghfiroh/ampunan bagi mereka.
Read More or Baca Lebih Detil..