Sabtu, 09 Januari 2010

Etika Mengingatkan Suami

Rasulullah saw. bersabda,
"Rahmat Allah ke atas wanita yang bangun malam dan shalat, lalu membangunkan suaminya dan ikut shalat. Apabila suaminya enggan, maka ia percikkan air di mukanya." (Ahmad, Abu Dawud) .
Allah berfirman, "Dan orang-orang beriman, lelaki dan wanita, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah serta Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. " (At-Taubah : 71) .
Urusan saling mengingatkan adalah tugas seluruh muslimin dan muslimat, siapapun mereka, lebih-lebih pasangan suami istri. Syaikh Abdul Halim Hamid menulis bahwa salah satu kerja sama yang sangat penting yang dianjurkan oleh Islam kepada suami-istri muslim adalah kerja sama dalam jihad fi sabilillah, dakwah dan tabligh. Seorang istri juga ikut memberikan masukan agama kepada suaminya. Sebagaimana Hafsah rha. yang memberikan masukan kepada ayahnya, Amirul Mukminin Umar ra. tentang beberapa lama batas kesabaran seorang wanita ketika ditinggal oleh suaminya untuk berjihad di jalan Allah. Kita sudah mengetahui ceritanya. Juga salah satu bentuk kerja sama yang indah adalah bila seorang istri dapat mengingatkan kembali bahwa pertolongan dan dukungan Allah selalu bersamanya.


Juga sebagaimana dalam perjanjian Hudaibiyah, Ummu Salamah ra. ikut memberikan pendapatnya kepada suaminya yaitu Rasulullah saw. demi kemaslahatan kaum muslimin. Sebaliknya, jangan menjadi seperti istri Abu Lahab la'natullah alaiha yang ikut memberikan usulan-usulan kepada suaminya dalam memusuhi Islam. Semoga Allah swt. merahmati pasangan yang senantiasa bekerja sama saling mengingatkan dalam urusan agama.

Jika usul istrinya baik dan diamalkan oleh suami, maka pahala kebaikan tersebut akan mengalir kepadanya. Sebaliknya, jika usul tersebut buruk untuk agama dan diamalkan oleh suami, maka dosanya pun akan ditanggung berdua.
Beliau juga mensifati istri para sahabat ra., yaitu dengan ungkapan: Mereka selalu mendorong suaminya untuk keluar di jalan Allah menyambut seruan jihad. Sang istri melepaskannya sambil memohon kepada Allah swt. agar suaminya diberi anugerah salah satu dari dua kebaikan; kemenangan atau mati syahid, sekalipun pada waktu malam pengantin, malam milik mereka berdua, yang paling indah, sebagaimana kisah Hanzhalah bin Abi Amir ra., sang syuhada yang dimandikan oleh para malaikat, karena ia berangkat ke medan pertempuran dalam keadaan junub.

Mereka, para istri sahabat, selalu mengangkat moral suami dan menyirnakan kekhawatiran dirinya dan anak-anaknya dengan menyebut sebuah ayat: "Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman." "Allah adalah Pelindungku, Pelindungmu, dan Pelindung anak-anak kita dan kita tidak memiliki kekuasaan atas urusan kita. Allah telah menjaga saat-saat kepergianmu lebih ketat daripada saat-saat engkau ada. Maka bertawakallah kepada Allah. Jangan sibukkan benakmu memikirkan rezeki. Aku melihatmu sebagai tukang makan dan bukan sebagai Pemberi rezeki. Maka bila si tukang makan tiada, sang Pemberi rezeki akan tetap hidup." Jika suami keluar dari rumahnya, maka istrinya atau anak perempuannya berkata kepadanya, "Hati-hatilah terhadap usaha yang haram. Sesungguhnya kami sabar terhadap lapar dan kesulitan dan kami tidak sabar terhadap neraka."

Suami istri adalah da'i Allah swt., keduanya bertanggung jawab atas kehidupan agama dalam sebuah rumah tangga khususnya dan umumnya di seluruh alam ini. Wanita shalihah senantiasa siap memperingatkan suami apabila ia lalai menafkahi istri dan keluarganya dengan nafkah agama, karena memberi nafkah agama kepada keluarga pun adalah kewajiban seorang kepala keluarga. Jika istri membiarkan kejelekan berkeliaran dalam rumah tangganya, maka berarti telah membiarkan penyakit menular dan berbahaya bertebaran di dalam rumah tangganya.
Suatu ketika Nabi saw. bertanya kepada Ali ra., "Bagaimanakah engkau mendapati pasanganmu?" Ali ra. menjawab, "Aku mendapati Fatimah sebagai pendorong yang terbaik dalam menyembah Allah." Nabi saw. pun bertanya kepada Fatimah ra. tentang Ali, ia menjawab, "Dia adalah suami yang terbaik."

Dalam kitab Shifatush Shajwah, dinukilkan bahwa Abu Ja'far As-Sa'ih berkata, "Ada berita yang sampai kepada kami, bahwa ada seorang wanita yang selalu rajin mengerjakan shalat-shalat sunnah, berkata kepada suaminya, "Celaka engkau! Bangunlah, sampai kapan engkau tidur saja? sampai kapan engkau dalam keadaan lalai? Aku akan bersumpah demi engkau. Janganlah mencari penghasilan kecuali dengan cara yang halal. Dan aku akan bersumpah demi engkau, janganlah masuk neraka hanya karena diriku. Berbuat baiklah kepada ibumu, sambunglah silaturahmi, janganlah memutuskan tali persaudaraan dengan mereka, sehingga Allah akan memutuskan dengan dirimu."
Read More or Baca Lebih Detil..

Menghibur Suami

Firman Allah swt., .
".. Agar kamu merasa tentram kepadanya." (Ar-Ruum: 21).
Di dalam ayat di atas, terkandung isyarat bahwa wanita harus menjadi pelabuhan ketentraman, kedamaian dan rasa aman bagi kaum laki-laki. Ini merupakan tugas fitrah bagi wanita dalam kehidupan yang dipenuhi oleh berbagai kesulitan.

Ummul Mukminin, Khadijah ra. adalah teladan nomor satu dalam masalah ini. Pada saat Rasulullah saw. mengalami ketegangan, ia meringankan beban perasaan beliau. Dia menyejukkan hati dan menghibur beliau seraya berkata, "Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinamu, karena sungguh engkau telah menyambung silaturrahmi, menanggung orang yang kesulitan, menutup keperluan orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong setiap upaya menegakkan kebenaran."
Ali ra. pun turut menyumbangkan nasehat kepada pasangan suami istri, "Hiburlah hati dari waktu ke waktu yang lain, sebab jika hati itu dibuat menjadi benci, maka ia akan menjadi buta."

Sesungguhnya inilah yang diinginkan oleh suami mana pun; yaitu mendapatkan ketenangan dan penghibur hati dari istrinya, sehingga mendapatkan dalam keluarganya 'rumahku surgaku'.
Syaikh Abdul Halim Hamid mengatakan, bahwa sesungguhnya Allah menjadikan istri sebagai tempat berteduh, agar suami tenang dan tenteram di haribaannya. Cinta yang ditunjukkan kepada suami dengan hati nan lembut penuh kasih sayang akan segera melenyapkan segala perasaan kusut, penat dan letih, setelah bergulat dengan gelombang kehidupan yang keras. Setiap orang memang ingin mempunyai teman yang bersedia mendengar dan berbagi rasa dengannya. Terma-suk suami kita. Wajarlah jika suami menghendaki keluarga adalah tempat untuk menghibur hatinya, melegakan hatinya. Demikian itu akan didapat jika seorang wanita shalihah memahami hal tersebut.
"Sebaliknya, adalah sangat dicela istri-istri yang tidak pandai menghibur suami. Rasulullah saw. bersabda, "Siapapun wanita yang cemberut di hadapan suaminya, maka ia akan dimurkai Allah sampai ia dapat menimbulkan senyuman suaminya dan meminta ridhanya." Dalam riwayat lain disebutkan, "Siapapun wanita yang durhaka di hadapan suaminya, melainkan ia akan bangkit dari kuburnya dengan mukanya yang berubah menjadi hitam."

Contoh Kisah Istri dalam Menghibur Suami •
Ketika putra Abu Thalhah ra. wafat, maka berkata Ummu Sulaim rah.a kepada keluarganya: "Jangan kalian memberitahu Abu Thalhah tentang anaknya, hingga aku sendiri yang menceritakannya." Datanglah Abu Thalhah pada saat berbuka puasa. Lalu ia berbuka. Kemudian Ummu Sulaim berdandan dengan sangat cantik, yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Tertariklah Abu Thalhah dan terjadilah hubungan suami istri pada malam itu. Ketika istrinya merasa bahwa Abu Thalhah telah puas, ia berkata, "Wahai Abu Thalhah, apa pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan barang kepada kaum yang lain, ketika kaum tersebut ingin meminta barangnya kembali, adakah yang dipinjami berhak menghalangi?" Jawab Abu Thalhah ra., 'Tidak." Ummu Sulaim ra. berkata, "Maka mohonlah pahala dari Allah untuk anakmu." Maka marahlah Abu Thalhah seraya berkata, "Apakah engkau membiarkanku, sehingga aku sudah kotor (junub) baru engkau kabarkan tentang anakku?" Abu Thalhah segera menghadap Nabi saw. memberitahukan apa yang telah terjadi. Nabi saw. bersabda, "Semoga Allah memberkati malam kalian berdua." Maka hamillah Ummu Sulaim. Kemudian ia melahirkan bayinya. Ketika pagi tiba, bayi itu dibawa oleh Ummu Sulaim kepada Nabi saw. dan Abu Thalhah menitipinya beberapa buah kurma. Lalu Nabi saw. mengambil kurma itu dan mengunyahnya, setelah itu kunyahan kurma dari mulut beliau dimasukkan ke dalam mulut bayi dengan dioleskan ke seluruh rongganya lantas memberinya nama Abdullah." (Muttafaqun Alaih)

Fatimah binti Abdul Malik, istri khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada suatu saat ia masuk ke dalam kamarnya dan mendapati suaminya sedang duduk di atas tikar shalatnya sambil menangis. Ia bertanya kepada suaminya, "Mengapa engkau menangis seperti ini?" Jawabnya, "Oh malangnya wahai Fatimah, aku diberi tugas mengurus umat seperti ini. Yang senantiasa menjadi pikiranku adalah nasib si miskin yang kelaparan, orang yang merintih kesakitan, orang yang terasing di negeri ini, orang tawanan, orang tua renta, janda yang sendirian, orang yang mempunyai tanggungan keluarga yang besar dengan penghasilan yang kecil dan orang yang senasib dengan mereka di seluruh pelosok negeri ini, baik di Timur maupun di Barat, Utara maupun Selatan. Aku tahu bahwa Allah akan meminta pertanggung-jawaban dariku pada hari Kiamat, sedangkan pembela.mereka yang menjadi lawanku kelak adalah Rasulullah saw.. Aku betul-betul merasa takut tidak dapat mengemukakan jawaban di hadapannya, itulah sebabnya aku menangis....." Pada saat itulah Fatimah .menghibur suaminya dengan penuh kasih sayang, walaupun sang suami banyak menghabiskan waktunya untuk menunaikan kepentingan agama dan umat dibandingkan untuk mengurus dirinya sendiri.
Read More or Baca Lebih Detil..

Etika Berbicara Dengan Suami

Wanita shalihah senantiasa mampu menjaga pembicaraan di hadapan suaminya. Jangan sampai melalui pembicaraannya, ia mendapat murka Allah karena telah menyakiti hati suami. Memang kadangkala hal ini dilakukan karena dorongan emosi yang tidak terkontrol. '
Inilah yang sangat dikhawatirkan oleh Nabi saw. Diriwayatkan bahwa ketika beliau sedang mengerjakan shalat Kusuf, terbayang di benak Rasulullah saw. surga dan neraka. Dalam neraka beliau melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita. Para sahabat ra. bertanya; Apa sebabnya? Rasulullah saw. menjawab, "Karena mereka tidak mengakui kebaikan dan tidak berterima kasih kepada suaminya. Yaitu kamu berbuat baik kepada istrimu sepanjang hayatmu, namun suatu ketika karena suatu hal sepele ia berkata, 'Tidak pernah aku mendapatkan kebaikan apapun darimu." (Muttafaqun Alaih).


Ya'la bin Munabbih r.a menceritakan, bahwa ada seorang suami yang datang menghadap Rasulullah saw. dan menceritakan bahwa setiap suaminya datang, maka istri yang shalihah menyambutnya dengan kata-kata, "Selamat datang tuan pemilik rumah. Jika kehendakmu untuk akhiratmu, semoga Allah meningkatkan dengan |kemauanmu itu. Dan jika kehendakmu itu untuk duniamu, semoga Allah akan memberimu rezeki dan merestuimu." Mendengar penuturan orang tersebut, Rasulullah saw. bersabda, "Untuk istrimu itu pahala separuh orang yang berjuang di jalan Allah. Dialah pekerja di bawah pimpinan Allah."
Putri Sa'id bin Musayyab rah.a. yang terkenal dengan keshalihannya telah memberikan pelajaran kepada para istri bagaimana seharusnya berlaku di hadapan suami, ia berkata, Tidaklah kami berbicara kepada suami kami, kecuali seperti kalian berbicara kepada raja-raja kalian." (Ahkamun Nisa).

Syaikh Zakariyya rah.a. mengulas hal ini, dan berkata, "Dengan riwayat-riwayat ini, dapat dipahami penyebab mengapa kebanyakan wanita masuk neraka. Dalam hadits mengenai Hari Raya, diceritakan bahwa setelah mendengar nasehat Rasulullah saw., semua kaum wanita telah membuka perhiasan emas dan perak dari telinga dan leher mereka, lalu diletakkan dalam kain Bilal ra. yang bertugas mengumpulkan sedekah pada masa itu."

Dikutip oleh Syaikh Ahmad Husin dalam buku 'Az-Mar'atuz Muszimat amamat Tahdiyaat', bahwa suatu ketika Asy-Sya'bi bertanya kepada Syuraih Al Qadhi tentang rumah tangga. Syuraih berkata, "Selama dua puluh tahun, aku belum pernah melihat sesuatu dari istriku yang membuatku kesal. Sejak malam pertama aku bertemu dengan istriku, ternyata ia demikian cantik, tiada bandingnya. Ketika aku melaksanakan dua rakaat shalat syukur, kulihat istriku juga melakukan hal yang sama. la mengatakan, "Alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah, aku memohon pertolongan kepada Allah, sesungguhnya aku adalah seorang wanita yang tidak tahu sedikit pun tentang kebaikanmu, maka jelaskan kepadaku apa yang engkau sukai, sehingga aku bisa menunaikannya dan apa yang tidak engkau sukai sehingga aku dapat meninggalkannya. Dalam kaummu banyak wanita yang layak kamu nikahi, dan di dalam kaumku banyak lelaki yang layak menjadi suamiku, tetapi jika Allah sudah menentukan hal itu terjadi, sekarang engkau telah memilikiku. Kerjakanlah apa yang telah Allah perintahkan kepadamu, tetaplah memilikiku dengan baik atau menceraikanku dengan baik pula. Aku sampaikan hal ini dan aku memohon kepada Allah untukmu dan diriku." Syuraih melanjutkan, "Wahai Sya*bi, demi Allah, ia menjadikan aku berceramah mengenainya. Aku berkata, "Alhamdulillah, nahmaduhu wa nushalli ala Rasulihil Karim. Sungguh engkau telah mengatakan sesuatu yang jika engkau dapat membuktikan kebenarannya, maka itu akan menjadi nasibmu. Tetapi jika engkau hanya mengada-ada, maka hal itu akan menjadi bumerang bagimu. Aku suka ini dan itu. Aku tidak suka ini dan itu. Apa yang engkau lihat dari kebaikan, maka sebarkanlah. Dan apa yang engkau lihat dari keburukan, maka sembunyikanlah." Istriku berkata, "Siapakah di antara tetangga-tetanggamu yang kamu bolehkan ia untuk memasuki rumahmu, sehingga aku pun membolehkannya dan siapakah di antara mereka yang kamu tidak menyukai mereka untuk memasuki rumahmu, sehingga aku pun tidak membolehkannya?" Aku menjawab, "Bani fulan adalah orang-orang yang baik, sedangkan bani fulan adalah orang-orang yang tidak baik." "Wahai Sya’bi, aku hidup dengannya selama 20 tahun belum pernah aku mengomentarinya tentang sesuatu kecuali sekali itupun ketika aku berbuat zhalim kepadanya."

Oleh sebab itu, hendaknya diingat bahwa seorang istri hendaknya dapat menjadikan setiap ucapannya adalah penghibur bagi suaminya. Bila istri mempunyai keluhan hendaknya memperhatikan waktu dan situasi serta kondisi suami. Hendaknya ia mempedulikan, bahwa suami pun mempunyai pekerjaan yang juga menyita tenaga dan pikirannya. Untuk itu, walaupun bermacam-macam masalah yang dihadapi seorang istri, sebaiknya ia menyambut dan menghadapi suami dengan kata-kata yang menghibur hati dan menyenangkan. Jangan berbuat sebaliknya, yang seolah-olah ia tidak mempedulikan keadaan suami, sehingga mengeluarkan kata-kata yang tidak menyenangkan dan menyakitkan hati suami. Nabi saw. bersabda, "Shalat seorang wanita yang mengganggu suaminya dengan lidahnya, tidak diterima oleh Allah, walaupun ia berpuasa setiap hari, bangun dan shalat pada waktu malam, membebaskan beberapa budak dan membelanjakan uangnya di jalan Allah. Wanita dengan lidah busuk yang mengganggu suaminya dengan cara seperti ini adalah orang pertama yang akan memasuki neraka." (Bihar Anwar: 203).
Read More or Baca Lebih Detil..

Keridhaan Suami

Hendaknya dipahami oleh setiap wanita shalihah, bahwa keridhaan suami adalah kunci kebahagiaan hidupnya. Inilah yang seharusnya selalu diusahakan oleh setiap istri. Rasulullah saw. bersabda," Siapa saja wanita yang meninggal dunia dan suaminya ridha kepadanya, maka ia masuk surga." (Hadits Riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim).
Rasulullah saw. bersabda, "Tidak dihalalkan bagi seorang istri berpuasa sunah ketika ada suaminya kecuali dengan izinnya. Juga tidak boleh istri mengizinkan seseorang masuk ke rumahnya melainkan dengan izin suaminya." (Bukhari, Muslim).
Rasulullah saw. bersabda, "Tiga orang yang tidak akan naik (pahala) shalat mereka dari kepala mereka walaupun sejengkal, yaitu; seorang lelaki yang mengimami suatu kaum padahal mereka membencinya, dan seorang istri yang bermalam padahal suaminya marah kepadanya, dan dua orang bersaudara yang saling bermusuhan." (Ibnu Majah).
Rasulullah saw. bersabda, 'Tiga macam orang yang shalatnya tidak akan diterima dan tidak akan sampai kebaikan mereka ke langit (tidak mendapatkan pahalanya), yaitu: hamba sahaya/ pembantu yang kabur dari tuan/ majikannya, sehingga ia kembali kepada tuannya, seorang istri yang dimarahi oleh suaminya, sehingga ia meridhainya, dan orang yang mabuk, sehingga ia sadar." (Ibnu Hibban, Baihaqi).
Salman Al-Farisi ra. meriwayatkan, bahwa suatu ketika Fatimah ra. berkunjung kepada Rasulullah. Ketika Rasulullah saw. melihatnya, kedua mata Fatimah mencucurkan air mata, dan raut mukanya berubah. Nabi saw. bertanya, "Mengapa engkau wahai anakku?" Fatimah ra. menjawab, "Ya Rasulullah, tadi malam aku dan Ali bergurau, dan telah timbul percakapan yang menyebabkan dia marah kepadaku, karena kata-kata yang terlontar dari mulutku. Ketika aku melihat bahwa dia (Ali) marah, aku menyesal dan merasa susah. Aku berkata kepadanya, "Hai kekasihku, kesayanganku, relakanlah akan kesalahanku, seraya aku mengelilinginya dan merayunya sebanyak tujuh puluh dua kali, sehingga dia menjadi rela dan tertawa kepadaku dengan segala kerelaannya, sedang aku tetap merasa takut kepada Tuhanku." Rasulullah bersabda kepada Fatimah ra., "Wahai anakku, demi Dzat yang telah mengutusku sebagai Nabi dengan agama yang haq, sesungguhnya sekiranya engkau mati sebelum Ali merelakanmu, maka aku tidak akan menshalati mayatmu." Kemudian beliau bersabda lagi, "Wahai anakku, Tidakkah engkau mengetahui bahwa kerelaan seorang suami itu merupakan kerelaan Allah dan kemarahan seorang suami itu merupakan murka Allah. Hai anakku, seorang wanita yang beribadah betul-betul seperti ibadahnya Maryam putri Imran, lalu suaminya tidak rela kepadanya, maka Allah tidak akan menerima (ibadah)nya. Hai anakku, amal yang paling utama bagi para wanita ialah ketaatan mereka kepada suaminya, dan sesudah itu tidak ada lagi amal yang paling utama daripada bercumbu (dengan suami). Hai anakku, duduk satu jam dalam bercumbu dengan suami, lebih baik bagi mereka daripada ibadah satu tahun, dan dicatat tiap-tiap pakaian yang dikenakan pada waktu bercumbu, seperti pahala seorang yang mati syahid. Hai anakku, sesungguhnya seorang wanita jika bercumbu, sehingga memakaikan pakaian untuk suaminya dan anak-anaknya, maka pasti baginya surga, dan Allah memberikan kepadanya dari tiap-tiap yang dikenakan, beraneka pakaian dan sebuah kota di surga."
Syaikh Abdul Halim Hamid mengatakan bahwa muslimah yang bijak adalah yang merasakan bahwa suaminya adalah orang yang serasi dengan dirinya. Adapun ketidakpunyaannya akan materi, apalah artinya. Hal itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap rumah tangganya, ia merasa ridha dengan apa yang dimiliki oleh suaminya.
Suri teladan bagi wanita shalihah adalah para wanita shalihah terdahulu yaitu para sahabiyah rha.. Lihatlah bagaimana mereka telah mendapatkan kunci tersebut dalam kehidupan mereka. Suatu ketika, Abu Darda ra. berpesan kepada istrinya, "Jika engkau mendapati aku sedang marah, maka maafkanlah. Dan jika aku mendapatimu sedang marah, maka telah kumaafkan. Dan kalau tidak demikian, kita tidak akan pernah bersahabat."
Imran bin Hathan ra. pernah berkata kepada istrinya -seorang wanita yang sangat cantik dan muda, sementara ia sendiri adalah lelaki yang tidak tampan dan kurang menarik, "Sesungguhnya aku dan kamu akan masuk surga, insya Allah." Istrinya bertanya, "Bagaimana itu bisa terjadi?" Jawab Imran, "Aku telah diberi oleh Allah istri secantik kamu, lalu aku bersyukur, dan engkau telah diberi oleh Allah suami semacam aku lalu engkau bersabar." (Ibnu Abi Rabah).
Rasulullah saw. pernah bertanya kepada para sahabatnya, "Maukah kuberitahukan kepadamu, bekal istrimu di surga?" Para sahabat ra. menjawab, "Ya, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Yaitu setiap istri yang penuh kasih sayang dan banyak anak (subur) dan bila ia marah atau diganggu atau dimarahi oleh suaminya, lalu ia menyerahkan dirinya dan berkata, "Inilah tanganku terserah padamu, aku tidak akan dapat tidur, sehingga engkau rela kepadaku." (Thabrani).
Jika melihat hadits di atas, terlihat mudah sekali bagi seorang wanita muslimah untuk memasuki surga. Seolah-olah surga bagi wanita itu hanya dua langkah: Ridha Allah dan ridha suami. Itu saja. Namun untuk mendapatkan ridha Allah dan ridha suami tentu memerlukan perjuangan atas keimanan dan amal shalih.



Read More or Baca Lebih Detil..

Khidmat/Melayani Suami

Rasulullah saw. sangat menekankan, agar setiap istri berkhidmat kepada suaminya, sebagaimana nasehat beliau kepada putrinya, Fatimah ra., "Wahai Fatimah, wanita yang menggiling tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti menetapkan pada setiap biji tepung itu kebaikan, menghapus kejelekannya dan meningkatkan derajatnya.
Wahai Fatimah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan yang disebutkan di atas adalah keridhaan suami atas istrinya. Seandainya suamimu tidak meridhaimu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fatimah, bahwa murka suami adalah murka Allah. Wahai Fatimah, tidaklah seorang istri yang melayani suaminya sehari semalam dengan rasa suka dan penuh keikhlasan serta niat yang benar, melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan memakaikan kepadanya pada hari Kiamat dengan pakaian yang hijau gemerlap, dan menetapkan baginya setiap rambut di tubuhnya dengan seribu kebaikan, dan Allah memberinya pahala seratus ibadah haji dan umrah.
Wahai Fatimah, tidaklah wanita yang tersenyum kepada suaminya, melainkan Allah akan memandangnya dengan pandangan kasih sayang. Wahai Fatimah, tidaklah wanita yang membentangkan tempat tidur untuk suaminya dengan senang hati, melainkan malaikat pemanggil dari langit akan menyerunya untuk menghadapi amalnya dan Allah mengampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang.
Wahai Fatimah, Tidaklah seorang wanita meminyaki rambut serta janggut suaminya, dan mencukurkan kumisnya, dan memotongkan kukunya, melainkan Allah akan memberikan kepadanya arak yang masih tertutup, murni dan belum terbuka dari sungai-sungai dalam surga Allah. Allah akan mempermudah sakaratul maut baginya, kuburnya akan ditemui sebagai taman-taman surga. Dan Allah menetapkan baginya bebas dari neraka dan dapat melewati shirat."
Dari Ibnu Mas'ud ra., Nabi saw. bersabda, "Apabila seorang istri mencucikan pakaian suaminya, maka Allah mencatat baginya seribu kebaikan dan mengampuni kesalahannya bahkan segala sesuatu yang disinari oleh matahari memintakan ampunan baginya, serta Allah mengangkat baginya seribu derajat." Ali ra. berkata, "Jihad seorang wanita adalah mengurus suaminya dengan baik."
Dalam AL-Mustadrak dikutip, bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Tugas 'seorang wanita adalah membukakan pintu dan menyambut suaminya." Sabda beliau, "Seorang istri bertugas menyediakan baskom dan handuk untuk membasuh tangan suaminya."



Read More or Baca Lebih Detil..

Taat Kepada Suami .

Rasulullah saw. bersabda,
"Seandainya aku diperbolehkan untuk memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, sungguh akan kuperintahkan wanita untuk bersujud kepada suaminya. Demi Dzat Yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, tidaklah seorang wanita bisa menunaikan hak-hak Allah sebelum ia menunaikan hak-hak suaminya seluruhnya, sehingga seandainya suaminya meminta dirinya dan ia berada di atas pelana kendaraan, ia tidak boleh menolaknya." (Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban).
Allah berfirman, "Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita." (An-Nisa: 34).
Wanita shalihah meyakini dan menerima dengan penuh kerelaan bahwa suaminya adalah pemimpin dalam rumah tangganya. Dan ia berkedudukan di bawah suaminya, sehingga ia mempunyai tanggung jawab untuk mentaatinya, karena keshalihan selalu berhubungan dengan ketaatan. Tidak bisa seseorang dikatakan shalih, jika ia tidak mempunyai ketaatan. Orang yang tidak taat adalah orang yang bermaksiat. Dan orang yang taat adalah orang yang shalih, sebagaimana firman Allah,
"Adapun orang-orang shalihah, adalah qanitat (orangyang taat), dan hafizhat (orang yang menjaga diri) saat suami tiada dengan sebab penjagaan Allah atasnya." (An-Nisa: 34).
Dalam Huququl Mar'ah dikatakan, bahwa istri yang tidak mentaati suami berarti telah bermaksiat kepada suaminya. Dan istri yang bermaksiat kepada suami berarti telah bermaksiat kepada Rasul-Nya. Dan siapa yang bermaksiat kepada Rasul-Nya, berarti telah bermaksiat kepada Allah. Dengan demikian, wajar jika malaikat mendo'akan laknat kepada wanita yang tidak mentaati suaminya.
Imam Nawawi rah. a. menulis, bahwa sebaiknya para istri mengetahui bahwa dirinya adalah milik suami, sebagaimana tawanan lemah yang tidak berdaya di hadapan suami. Selalu tunduk dan taat kepada suami, sehingga alim ulama berpendapat bahwa dalam segala perbuatan, istri hendaknya senantiasa dengan izin suami. Dan istri hendakriya merasa malu terhadap suami, tidak menentangnya, menundukkan pandangannya di hadapan suami, merendahkan suaranya, taat kepadanya dalam setiap perintah yang diberikan olehnya kecuali untuk kemaksiatan, diam ketika suami berbicara, mengantarkannya ketika keluar rumah, menjemputnya dengan bermuka manis ketika datang, menunjukkan cinta kasih kepadanya, mencumbunya ketika tidur, memakai harum-haruman ketika menemaninya, membiasakan berhias di hadapannya dan tidak berhias ketika ditinggal suami.
Ketaatan kepada suami adalah mutlak, sebagaimana nasehat Ibnul Jauzi rah.a., bahwa ketaatan seorang wanita kepada suami adalah wajib. Namun ketaatan wajib ini terbatas hal-hal yang dihalalkan bukan yang diharamkan, misalnya, mengajak bersetubuh pada waktu haidh, pada siang bulan Ramadhan, mengajak tidak shalat dan lain sebagainya. Allah tidak memperkenankan seseorang mentaati makhluk dalam hal-hal yang jelas bertentangan dengan perintah-Nya. Syaikh Abdul Halim Hamid menambahkan, seperti berdandan dengan dandanan Jahiliyah, serta ikut berkumpul dalam majelis yang bercampur antara pria dan wanita, maka seorang istri tidak wajib untuk mentaati suaminya dalam hal-hal tersebut di atas. Selanjutnya beliau menulis, bahwa seorang wanita shalihah hendaknya berhati-hati agar kekurangan yang ada pada diri suaminya tidak menyebabkan dirinya suka membantah perintah suaminya, baik kekurangan dalam segi harta, ilmu, kedudukan, maupun keturunannya. Terutama apabila sang istri memiliki kelebihan-kelebihan tersebut daripada suaminya, seyogyanya seorang istri bertaqwa kepada Rabbnya untuk tetap beristiqamah dalam batasan-batasan syariat-Nya semata mencari ridha Allah dan bukan ridha yang lainnya.
Ada sebuah hikayat, bahwa pada masa Nabi saw., ada seorang lelaki berangkat untuk berperang, ia berpesan kepada istrinya, "Istriku, jangan sekali-kali engkau keluar dari rumah ini hingga aku datang." Kebetulan ayahnya menderita sakit, maka perempuan itu mengutus seorang lelaki kepada Nabi saw. untuk bertanya apa yang seharusnya ia lakukan. Nabi saw. bersabda kepada utusan tersebut agar ia mentaati suaminya. Demikian perempuan itu menyuruh utusannya tidak hanya sekali. Dan dia pun tetap mentaati suaminya dan tidak berani keluar dari rumahnya. Hingga ayahnya meninggal dunia, sedang dia tetap tidak mengetahui mayat ayahnya. Dia tetap sabar, hingga suaminya kembali. Allah memberi wahyu kepada Nabi saw,, "Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa orangtua perempuan itu karena ketaatannya (istri) kepada suaminya."
Oleh sebab itu, jangan sekali-kali istri mencari-cari kelemahan suami yang akan mempengaruhi ketaatannya kepada suami. Jika dicari kelemahan itu, pasti akan mendapatkannya. Namun hal itu akan mempercepat kehancuran rumah tangganya sendiri. Jika kelemahan itu akhimya terlihat juga oleh mata kita, maka tugas seorang wanita shalihah adalah memperbaikinya dengan cara yang bijaksana tanpa mengurangi rasa hormat dan ketaatannya kepada suami.


Read More or Baca Lebih Detil..

Hak Suami Terhadap Istri

Rasulullah saw. bersabda,
"Wanita tidak dapat menunaikan hak Allah, sehingga ia menunaikan sesuai hak-hak suaminya, walaupun suaminya memintanya (untuk menggaulinya) di atas pelana kendaraan tetap belum terrunaikan haknya." (Thabrani).
Rasulullah saw. bersabda, "Wahai sekalian wanita, bertaqwalah kepada Allah, dan peganglah ridha suamimu. Sesungguhnya wanita jika mengetahui hak-hak suaminya, ia akan tetap berdiri selama makan siang dan makan malamnya." (Abu Nu'aim).
Aisyah r.ha. pun berkata, "Wahai kaum wanita, seandainya kalian mengetahui hak-hak suamimu yang harus kalian penuhi, pastilah kalian menyapu debu-debu dari kedua telapak kaki suamimu dengan sebagian mukamu."
Hadits-hadits di atas secara jelas telah menyatakan betapa tinggi hak seorang suami yang harus ditunaikan oleh istri. Namun pada zaman yang modern seperti ini, berapa banyakkah wanita yang demikian peduli dalam menunaikan hak-hak suaminya? Jangankan untuk menunaikan hak-hak suaminya, bahkan keinginan untuk mengetahui apa-apa yang menjadi hak-hak suaminya pun, masih banyak kaum wanita yang tidak mau berusaha.
Hak manusia yang paling penting ditunaikan oleh seorang istri adalah hak-hak suaminya. Selama hak-hak suami belum terpenuhi, maka hak Allah belum sempurna ditunaikan. Allah tetap akan menanyakan kembali di akhirat akan hak-hak sesama manusia yang harus ditunaikan. Walau bagaimanapun hebatnya seorang istri dalam beribadah kepada Allah swt., tetapi Allah menganggap belum ter-tunaikan hak-Nya jika sang istri belum menunaikan hak-hak suaminya.
Ada beberapa hak utama yang menjadi kewajiban istri untuk menunaikannya: Sebagaimana sabda Rasulullah saw., "Hak suami atas istri adalah bermalam di kasurnya, menyenangkan janjinya, mentaati perintahnya, tidak keluar kecuali dengan izinnya, tidak memasukkan ke dalam rumahnya siapa saja yang dibenci suaminya." (Thabrani) .
Alim ulama menyimpulkan beberapa hak-hak suami yang harus dipenuhi oleh istri, diantaranya adalah:

a. Mentaati suami.
b. Menjaga kehormatan suami.
c. Bersikap menyenangkan di hadapan suami.
d. Berhemat dalam pengeluaran hartanya.
e. Tidak memasukkan lelaki lain tanpa seizin suami.
f. Tidak menolakajakan suami untuk berjima'.
g. Menjaga rahasia suami.
h. Tidak keluar dari rumah tanpa seizin suaminya.
i. Menjaga harta suaminya.
j. Menerima gilirnya jika ia mempunyai saudara madu.

Dan masih banyak lagi yang menjadi hak suami atas istrinya. Sedangkan banyak wanita yang memahami hak-hak dirinya hanya berkisar dalam masalah nafkah materi. Sangat sedikit seorang istri yang mempedulikan tentang nafkah agama, sehingga mereka jarang menuntut sang suami untuk menunaikannya. Hal itu menyebabkan fitnah demi fitnah pun bermunculan di dunia rumah tangga.
Read More or Baca Lebih Detil..